5.17.2009

Kisah Ashabul Ukhdud

Orang-orang yang bersabar, telah membuktikan keberhasilannya didalam sejarah kehidupan manusia. Sampai-sampai, kesabaran mereka dalam menghadapi gelombang penyiksaan dari orang-orang yang menginginkan agar mereka keluar dari agama Allah di puji oleh Allah dan digambarkan di dalam FirmanNya Al Qur'an. Siksaan demi siksaan mereka dapatkan. Namun mereka tetap bersabar dengannya. Karena keimanan yang teguh kepada Allah telah terpatri dalam jiwa mereka. Diantara kisah itu adalah kisah yang disebutkan dalam Al Qur'an Surat Al Buruj ayat 4-6 tentang Kisah Ash-Shaabul Ukhdud. Untuk lebih jelasnya, marilah kita simak kisah berikut, kisah yang langsung diceritakan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Sahabat Shuhaib radhiallahu'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda:
"Ada seorang raja yang hidup pada masa sebelum kalian, dia mempunyai seorang ahli sihir. Ketika usia ahli sihir menginjak masa tua, dia berkata kepada raja.
"Sesungguhnya saya telah memasuki masa tua, maka utuslah salah seorang anak muda kepadaku untuk saya ajarkan kepadanya sihir"
Maka diutuslah seorang anak muda untuk belajar sihir kepadanya. Dan dalam perjalanan menuju rumah ahli sihir, pemuda itu melewati tempat tinggal seorang rahib. Maka diapun duduk ditempat itu untuk mendengarkan pembicaraan sang rahib. Sehingga setiap kali pemuda itu menuju rumah ahli sihir, dia pasti melewati tempat tinggal sang rahib dan dan duduk didalamnya untuk mendengarkan nasehat sang rahib.
Akibatnya, dia terlambat datang ketempat ahli sihir dan mendapatkan hukuman. Maka anak muda itu mengadukan peristiwa yang menimpanya kepada sang rahib. Sang rahib berkata,: “Jika engkau ditanya sebab keterlambatanmu dan takut dipukul tukang sihir, katakan saja padanya, “Aku terlambat karena urusan keluargaku”. Dan jika kamu khawatir dengan keluargamu, maka katakanlah, “Aku terlambat karena belajar dengan tukang sihir”.
Kejadian itu terus berlangsung, sampai suatu hari sang pemuda berhadapan dengan seekor binatang melata besar yang menghalangi jalan manusia. Berkata pemuda itu,:
"Hari ini aku akan mengetahui apakah perintah tukang sihir atau sang rahib yang lebih utama”. Setelah itu ia mengambil batu dan berkata berkata, “Ya Allah, jika perintah rahib lebih engkau cintai dan ridhai daripada tukang sihir maka matikanlah binatang ini, sehingga manusia dapat berjalan kembali”.
Selanjutnya anak muda itu melempar binatang buas dengan menggunakan batu yang dia pegang dan terbunuhlah binatang itu. Kemudian pemuda itu menemui rahib dan menceritakan seluruh peristiwa yang dia alami. Maka berkata sang Rahib :
"Wahai anakku, hari ini engkau telah mendapatkan keutamaan melebihi diriku. Aku telah melihat peristiwa besar yang menimpamu, dan sesungguhnya engkau akan menemui ujian iman. Maka apabila engkau mendapatkan ujian dan siksaan yang berat, maka janganlah engkau sebutkan diriku."
Dikemudian hari, anak muda itu mampu menyembuhkan orang-orang yang mengalami kebutaan sejak lahir dan orang-orang yang mengalami penyakit sopak, serta menyembuhkan semua penyakit yang diderita oleh penduduk. Peristiwa ini didengar oleh salah seorang teman akrab raja. Orang itu mengalami kebutaan dan kemudian mendatangi sang pemuda dan membawa berbagai macam hadiah. Dia berkata kepada sang pemuda:
"Semua hadiah ini akan aku berikan kepadamu, apabila engkau berhasi menyembuhkan penyakitku".
Sang pemuda menjawab:
"Sesungguhnya aku tidak mampu menyembuhkan seorang manusia pun. Akan tetapi Allah sajalah yang memberikan kesembuhan. Maka apabila engkau beriman kepada Allah, aku akan memohon KepadaNya agar memberikan kesembuhan kepadamu."
Selanjutnya, teman akrab raja itupun beriman kepada Allah dan diberikan olehNya kesembuhan. Dan kemudian dia segera menghadap sang raja sebagaimana biasa.
"Siapakah yang mampu menyembuhkan penglihatanmu?" Tanya sang raja.
Orang itu menjawab:
"Rabb Sang Penciptaku yang telah mengembalikan penglihatanku".
"Apakah engkau meyakini ada Rabb Sang Pencipta selain diriku?" Tanya sang raja
Lelaki itu menjawab:
"Rabb penciptaku dan penciptamu adalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkapnya dan terus menerus menyiksanya sehingga terpaksa orang itu menceritakan perihal anak muda (yang mampu menyembuhkan penyakitnya-red). Sehingga sang pemuda dibawa menghadap sang raja, maka bertanyalah sang raja kepadanya:
"Wahai anakku, apakah kemampuan sihirmu sangat hebat, sehingga engkau mampu menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan menyembuhkan sopak serta penyakit-penyakit lain?"
Anak muda itu berkata:
"Aku tidak mampu memberikan kesembuhan kepada seorangpun, akan tetapi yang memberikan kesembuhan itu hanyalah Allah saja".
Mendengar jawaban itu, sang raja segera menangkap dan terus-menerus menyiksanya sehingga sang pemuda terpaksa menceritakan perihal rahib (yang telah mengajarkan keimanan kepada Allah-red). Maka, didatangkanlah sang rahib dan diperintahkan kepadanya,
“Keluarlah dari agamamu.” Si rahib menolak.
Raja itu minta dibawakan sebuah gergaji, lalu diletakkan di atas kepala si rahib dan mulailah kepala itu digergaji hingga terbelah dua. Kemudian diseret pula teman duduk raja tersebut, dan dipaksa pula untuk kembali murtad dari keyakinannya. Tapi dia menolak. Akhirnya kepalanya digergaji hingga terbelah dua.
Kemudian pemuda itu dihadapkan kepada raja dan dikatakan kepadanya:
“Keluarlah kamu dari keyakinanmu.”
Pemuda itu menolak. sehingga dia diserahkan kepada prajuritnya kemudian berkata kepada mereka:
“Bawa dia ke gunung ini dan itu, dan naiklah. Kalau kalian sudah sampai di puncak, kalau dia mau beriman (bawa pulang). Kalau dia tidak mau, lemparkan dia dari atas.”
Merekapun membawa pemuda itu ke gunung yang ditunjuk. Si pemudapun berdoa:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu”
Seketika gunung itu bergetar dan merekapun terpelanting jatuh. Pemuda itu datang berjalan kaki menemui sang raja. Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Kemudian raja itu menyerahkan si pemuda kepada beberapa orang lalu berkata:
“Bawa dia dengan perahu ke tengah laut. Kalau dia mau keluar dari keyakinannya, (bawa pulang), kalau tidak lemparkan dia ke laut.”
Merekapun membawanya. Si pemuda berdoa lagi:
“Ya Allah, jagalah diriku dari kejahatan mereka sesuai dengan kehendakMu” Perahu itu karam dan mereka pun tenggelam. Sedangkan si pemuda berjalan dengan tenang menemui sang raja.
Raja itu berkata:
“Apa yang dilakukan para pengawalmu itu?”
Kata si pemuda:
“Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkanku dari mereka.”
Lalu si pemuda melanjutkan:
“Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sampai engkau melakukan apa yang kuperintahkan.” Sang raja bertanya: “Apa itu?”
Kata si pemuda: “Kau kumpulkan seluruh manusia di satu tempat, kau salib aku di sebatang pohon dan ambil sebatang panah dari kantung panahku kemudian letakkan pada sebuah busur lalu ucapkanlah: ‘Bismillah Rabbil ghulam’ (Dengan nama Allah, Rabb si pemuda), dan tembaklah aku dengan panah tersebut. Kalau engkau melakukannya niscaya engkau akan dapat membunuhku.”
Raja itupun mengumpulkan seluruh manusia di satu tempat dan menyalib si pemuda, kemudian mengeluarkan anak panah dari kantung si pemuda lalu meletakkannya pada sebuah busur dan berkata:
“Bismillahi Rabbil ghulam”,
Kemudian dia melepaskan panah itu dan tepat mengenai pelipis si pemuda. Darah mengucur dan si pemuda segera meletakkan tangannya di pelipis itu dan diapun tewas. Serta merta rakyat banyak yang melihatnya segera berkata:
“Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda. Kami beriman kepada Rabb si pemuda.”
Raja itupun didatangi pengikutnya dan diceritakan kepadanya:
“Apakah anda sudah melihat, apa yang anda khawatirkan, demi Allah sudah terjadi. Orang banyak sudah beriman (kepada Allah).”
Lalu raja itu memerintahkan agar menggali parit-parit besar dan menyalakan api di dalamnya. Raja itu berkata:
“Siapa yang tidak mau keluar dari keyakinannya, bakarlah hidup-hidup dalam parit itu. (Atau: ceburkan ke dalamnya).”
Para prajurit pun menjalankan perintah sang Raja. Sehingga terdapat seorang wanita yang digiring di pinggir parit, sedangkan dia menggendong anak yang masih kecil. Ketika sampai diparit, dia merasa ragu untuk menyeburkan diri kedalamnya. Maka tiba-tiba sang anak berkata kepada ibunya:
"Wahai Ibunda, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada diatas keyakinan yang benar.
(Hadits shahih riwayat Imam Muslim. Kitabuz Zuhd war Raqaaiq no: 5327)

Postingan ini saya kutip di www.asysyariah.com dan buku yang berjudul; Setangguh Pribadi Nabi.

Bentuk Serangan Musuh Islam

Musuh-musuh Islam, tidak akan pernah berhenti untuk menyerang dan menghansurkan kaum muslimin sampai kaum muslimin itu masuk kedalam ajaran mereka. Atau kalau tidak masuk dalam ajaran mereka, maka penindasan secara fisik akan senantiasa dilakukan oleh mereka yang memusuhi ad-dien Islam ini. Yakni dari kalangan yahudi dan nashrani. Sebagaimana ha ini telah di firmankan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam al Qur’an surat Al Baqarah ayat 120:

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Firman Allah ini memberikan gambaran kepada kita kaum muslimin bahwa musuh-musuh islam dari kalangan Yahudi dan Nashrani tidak akan pernah berhenti untuk melakukan penyerangan kepada kaum muslimin. Mereka tidak akan pernah puas untuk melakukan invasi-invasi kepada kaum muslimin walaupun mereka telah mengetahui bahwasanya mereka tidak akan pernah sanggup untuk menghancurkan Islam, seberapa besarpun kekuatan mereka. Dan mereka akan terus berusaha untuk melakukan aksinya tersebut sampai akhir zaman. Alhasil, usaha-usaha yang mereka lakukan itu memberikan hasil yang cukup memilukan dimana banyak kaum muslimin saat ini tertipu dengan apa yang mereka bawa. Telah berapa banyak kaum muslimin yang murtad akibat serangan mereka tersebut. Telah berapa banyak pula nyawa kaum muslimin yang melayang akibat kebiadaban dan kebengisan mereka tersebut. Dengan bangga mereka melakukan semua ini, sementara disisi lain mereka menyebarkan isu-isu kontroversional yang pada hakikatnya sesungguhnya adalah untuk menyerang kaum muslimin itu sendiri. Berbagai isu-isu internasional telah mereka telorkan yang bertujuan untuk menurunkan citra islam dan kaum muslimin didunia pada umumnya. Dan isu-isu yang mereka kemukakan baik lewat media massa maupun media elektronik ini diterima dengan mudah oleh kaum muslimin itu sendiri, sehingga serangan-serangan musuh-musuh islam ini dianggap sebagai sesuatu yang benar adanya oleh kaum muslimin itu sendiri. Sungguh sangat menyedihkan. Permainan media yang mereka kuasai memberikan pengaruh yang besar pula terhadap pemahaman orang islam terhadap islam itu sendiri dari sisi isu-isu yang mereka telorakan. Penyerangan terhadap pola pemikiran kaum muslimin juga menjadi salah satu upaya mereka dalam menghancurkan kaum muslimin. Berbagai produk-produk pemikiran yang telah musuh islam rencanakan ini telah berimbas pula pada pemahaman umat islam terhadap islam itu sendiri. Lagi-lagi, seolah-olah tanpa salah musuh islam terus berusaha untuk menfitnah islam dan menampilaknannya dalam citra yang buruk melalui media-media yang mereka kuasai sendiri. Berdasarkan beberapa pemahaman yang dikemukakan diatas, maka kita dapat membagi bentuk serangan-serangan musuh islam terhadap umat islam dalam 4 bagian sebagai berikut:

1. Penyerangan dari sisi Agama
2. Penyerangan dari sisi ekonomi
3. Penyerangan dari sisi Militer
4. Penyerangan terhadap Otak (Pemikiran kaum Muslimin)



Apa Manfaatnya Bagiku

Memori ini mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah di input beberapa tahun yang silam. Namun nampaknya memori ini sudah tidak terlalu kuat untuk mengingatnya kembali secara sempurna. Sehingga, apa yang telah di baca itu sudah tidak mampu lagi dijelaskan secara detail seperti apa yang telah didapatkan sebelumnya. Tapi, tak apalah. Kalaupun tidak semua bisa di input, paling tidak ada yang tersave dan bisa jadi apa yang tersimpan ini dapat memberi manfaat yang besar dalam aktivitas keseharian pribadi juga memberikan manfaat buat mereka yang rakus akan perbaikan jalan kehidupan yang berliku. Menjadikan hari-hari terlewati dengan manfaat yang cukup menjanjikan sebagai pengganti atas ketidak gunaan yang dilakukan sebelumnya serta sebagai cadangan manakala ada ketidakmanfaatan yang dilakukan dimasa depan. Karena tidak ada seorangpun yang merasa bebas dari ketidakmanfaatan dimasa yang akan datang. Tidak ada seorangpun yang dapat menjamin akan kehidupannya diera yang akan datang.

Buku yang saya baca itu adalah Quantum Learning. Buku ini merupakan salah satu buku yang memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai metode-metode yang harus dilakukan dalam proses belajar. Metode yang diajarkan ini adalah metode yang sudah dapat dibuktikan secara langsung sehingga secara nyata. Apa yang disampaikan kepada pembaca buku ini dapat diibaratkan seperti sebuah tutorial yang pembaca dapat langsung mengaplikasikannya. Namun rupanya untuk hal seperti ini tidak semudah membaaikan telapak tangan. Metode-metode yang diajarkan membutuhkan keseriusan dan ketekunan untuk melakukannya. Orang yang tidak memiliki kesabaran yang tinggi akan kesusahan untuk menjalankan tutorial yang disampaikannya.
Diantara isi buku tersebut adalah apa yang biasa dikenal dengan istilah ambak. Apa manfaatnya bagiku?. Sebuah pertanyaan yang mesti dijawab oleh setiap orang yang melakukan aktivitas. Setiap orang yang ingin mencapai kesuksesan dalam memperbaiki jalan kehidupannya. Sebuah pertanyaan yang singkat, namun juga memberikan pengaruh yang besar buat mereka yang memahami akan urgensi pertanyaan ini. Apa manfaatnya bagiku tatkala saya melakukan ini atau itu? Pertanyaan ini jika dipahami dengan benar, maka setiap orang akan melewati hari-harinya dengan manfaat. Karena tatkala dihadapkan pada sebuah aktivitas, jiwa kembali bertanya “Kalau saya kerjakan ini, apakah akan memberikan manfaat bagiku”? “Apakah apa yang saya lakukan ini dapat menjamin kehidupanku lebih baik”? Kalau ia, maka sayapun harus bersemangat untuk mengerjakannya. Karena ada efek kabaikan yang akan didapatkan setelahnya. Namun jika pertanyaan ini rupanya menghasilkan jawaban tidak ada manfaat, maka orang tersebut akan meninggalkan perbuatan tersebut dan menggantikannya dengan sesuatu yang bermanfaat karena dia sadar bahwa tidak ada gunanya mempertahankan perbutan yang ternyata tidak memberikan manfaat. Tidak ada gunanya melewati hari-hari tanpa manfaat yang dihasilkan baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Inilah konsekuensi dari pertanyaan Ambak (apa manfaatnya bagiku). Kehati-hatian dalam melakukan sesuatu akan nampak dalam diri mereka. Karena sadar bahwa melakukan sesuatu yang tidak memberi manfaat adalah sebuah kesia-siaan. Sedangkan melakukan sesuatu yang memberikan manfaat adalah sebuah keberuntungan. Hari-harinya terlewati dengan senantiasa bersemangat melakukan sesuatu yang bermanfaat.
Demikian juga halnya dengan orang yang belajar. Orang yang menerapkan metode AMBAK ini dalam proses belajarnya akan menjadi sadar bahwa belajar adalah sebuah kebutuhan. Dan belajar merupakan sesuatu yang wajib untuk dilaksanakan karena besarnya manfaat yang didapatkan oleh orang yang belajar. Sehingga dia akan senantiasa bersemangat untuk belajar. Seorang siswa IPS, dihadapkan pada keinginan untuk belajar mata pelajaran IPA. Nah,… Sebelum dia melakukannya, maka dia harus memunculkan pertanyaan dalam dirinya. Apa manfaatnya bagiku belajar IPA? Padahal IPA bukan bagian dari kebutuhan saya. Setelah dirinci sendiri akan manfaat atau tidaknya belajar IPA ini, maka siswa IPS ini kemudian mengambil kesimpulan bahwa daripada saya belajar IPA sementara pelajaran ini tidak muncul dalam ujian mata pelajaran IPS, maka lebih baik belajar akuntansi daripada IPA karena akuntansi merupakan mata pelajaran ujian. Demikian juga siswa IPA yang ingin belajar IPS harus mempertimbangkan akan manfaat atau tidak manfaatnya belajar IPS itu saat ini. Walaupun pelajaran-pelajaran ini semuanya berguna, namun dengan memperhatikan akan kebutuhan-kebutuhan saat ini, maka seorang pelajar yang baik lebih mendahulukan untuk menjalankan aktifitas yang dibutuhkan saat ini ketimbang aktifitas yang dibutuhkan dimasa yang akan datang. Orang yang belajar tidak akan rugi. Kecuali apa yang dipelajarinya adalah sesuatu yang mengarah kepada hal yang buruk. Namun kitapun mesti harus memperhatikan akan kebutuhan akan pelajaran itu disaat ini. Nah… Kalau misalnya kebutuhan saat ini sudah terpenuhi, maka menjalankan aktivitas belajar lain tidak jadi masalah asalkan aktivitas itupun memberikan manfaat baginya.Ini merupakan sebuah contoh sederhana yang menguraikan seputar masalah AMBAK dalam kehidupan anak sekolahan. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang bisa kita arahkan semisal terkait dengan masalah pertimbangan akan kemanfaatan (maslahat dan mudharat) dalam setiap perjalanan kehidupan setiap manusia.
Ada satu hal yang rupanya saat ini kurang dimiliki oleh kebanyakan orang dinegeri ini. Buktinya adalah banyak orang disekitar kita yang sulit untuk menerima kenyataan yang mereka dapatkan. Ketika mereka mendapatkan masalah yang membuat mereka harus menelan kepahitan dengannya, rupanya banyak yang stress. Sebagian lagi sampai pada tahap gila akibat kepahitan yang mereka dapatkan. Padahal, apa yang mereka lakukan itu adalah bagian dari apa yang telah rencanakan. Bahkan perencanaan yang sangat matang. Kalau tidak matang perencanaan dan pertimbangannya, tentu saja mereka tidak akan berani untuk melakukan apa yang mereka rencanakan itu. Contoh misalnya adalah banyaknya para calon legislatif saat ini yang stress akibat tidak lolos menuju kursi legislatif. Bahkan sampai pada tahap bunuh diri akibat kenyataan pahit yang mereka dapatkan. Bukankah ini akibat dari ketidakpuasan dan ketidak beranian untuk menerima kenyataan yang ada? Maka orang yang seperti ini disebabkan karena apa yang mereka rencanakan dan ingin mereka lakukan tidak mempertimbangkan AMBAK. Kalau sekiranya mereka mempertimbangkan masalah Ambak ini, tentu saja mereka tidak akan sampai pada tahap stress bahkan bunuh diri ini. Ini adalah fenomena yang terjadi ketika tidak ada kesiapan diri untuk menerima kenyataan. Berapa banyak manusia didunia ini yang sangat pusing ketika mendapatkan kenyataan-kenyataan yang tidak baik. Berapa banyak manusia yang bunuh diri karena kenyataan pahit. Di Jepang, demikian banyak orang yang bunuh diri (harakiri) setiap tahun karena ketidaksiapan diri menerima kepahitan hidup. Demikian juga di negeri ini, sudah berapa banyak orang yang bunuh diri akibat kenyataan pahit yang menimpa mereka.

4.25.2009

Pintar tapi Bodoh

Manusia, memiliki penafsiran yang berbeda tentang dirinya dalam menanggapi sifat-sifatnya. Penafsiran ini didasarkan kepada kemampuan mereka. Ada yang menjelaskan tentang dirinya secara berlebihan, ada yang biasa-biasa saja dan ada yang memandang dirinya bukan siapa-siapa. Biasanya, orang yang memandang dirinya berlebihan itu adalah orang yang sombong. Memandang dirinya lebih hebat dibandingkan dengan yang lain. Memandang orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Sehingga tatkala ada yang menyampaikan kebenaran kepadanya, dipandangnyalah sebelah mata kebenaran yang disampaikan oleh orang lain tersebut. Dan nampaknya, tipe orang seperti ini begitu banyak didunia ini.
Orang yang memandang dirinya biasa-biasa saja adalah orang yang seimbang dalam memandang tentang dirinya. Tidak berlebihan karena sadar akan kemampuannya, juga tidak memandang hina dirinya karena sadar akan kemampuannya juga. Dia adil dalam menilai dirinya. Walaupun mungkin dirinya lebih hebat dari orang yang hebat, namun dia tetap memandang dirinya biasa-biasa saja. Dan boleh jadi, dia lebih lemah dari orang yang paling lemah, namun dia tidak menunjukan bahwa dirinya lemah sehingga orang tidak memandang dirinya sebelah mata.

Orang yang memandang dirinya bukan siapa-siapa adalah orang merendahkan hatinya. Bukan berarti orang yang memandang dirinya biasa-biasa saja adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Akan tetapi, mereka sadar bahwasanya tidak ada gunanya memperlihatkan dan menonjolkan dirinya. Tidak ada gunanya menunjukan kelebihan-kelebihan dirinya jika hal tersebut menjadikan mereka bangga dan sombong. Sehingga mereka kemudian tidak berani untuk melebihkan dirinya diatas orang lain. Mereka tidak berani untuk mengatakan bahwa mereka hebat, walaupun kenyataannya mereka lebih hebat dari orang lain. Biarlah Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman yang melihat perbuatannya.
Pada tulisan ini, saya akan mencoba menganalisa tentang orang yang memandang dirinya berlebihan,lebih tinggi dan lebih hebat dari orang disekitarnya atau tidak memandang orang lain lemah tetapi memandang dirinya telah mengetahui sesuatu walaupun kenyataannya dia belum mengetahuinya.
Diantaranya adalah seorang yang memandang dirinya pintar sehingga tidak mau lagi belajar. Orang yang memandang dirinya pintar ini menganggap bahwa dirinya tidak perlu lagi untuk belajar secara serius karena mereka telah mengetahui. Dia memandang bahwa ukuran kepintarannya itu dilihat dari Indeks Prestasi kumulatif yang didapatkannnya. Dia tidak memperdulikan ajakan-ajakan orang lain untuk terus belajar. Dia tidak lagi memperdulikan orang lain yang mengajaknya untuk memanfaatkan waktu yang dianugrahkan kepadanya dengan senantiasa belajar dan terus belajar. Waktunya lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang sia-sia. Malahan, bukan hanya perbuatan yang sia-sia yang digelutinya melainkan hal-hal yang harampun dilakukannya. Beginikah orang yang pintar? Apakah orang yang pintar itu adalah orang yang menyia-nyiakan waktunya? Apakah orang yang pintar itu adalah orang yang memiliki nilai Prestasi kumulatif yang tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan untuk merealisasikan prestasi yang dimilikinya? Apakah orang yang pintar itu adalah orang yang hanya pandai berbicara tentang ini, tetapi ketika ditanyakan tentang itu dia tidak mengetahuinya? Ditanya tentang siapa dirinya tidak mengetahuinya?
Tentu saja, orang yang pintar bukan orang seperti ini. Orang yang pintar itu adalah orang yang senantiasa memanfaatkan setiap potensi yang dimiliki kepada koridor-koridor yang telah ditetapkan untuknya. Mereka senantiasa menuntut ilmu walaupun mereka telah mengetahuinya. Mereka tidak merasa bosan dengan menuntut ilmu karena mereka yakin bahwa masih banyak hal yang belum diketahui didunia ini. Sehingga waktu luang yang diberikan kepadanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bermanfaat. Orang yang pintar juga tidak memandang ilmu itu hanya sebatas pada indeks prestasi yang didapatkan disekolah-sekolah atau kampus-kampus, melainkan orang pintar itu adalah orang yang memandang bahwa ilmu yang dimiliki itu adalah untuk diaplikasikan dan disampaikannya ilmu yang dimiliki itu kepada orang yang belum mengetahuinya. Dan orang yang pintar itu adalah orang yang memandang bahwa waktu itu sangat penting sebagai anugrah tak terhingga yang diberikan oleh Allah sehingga dimanfaatkanlah waktu itu kepada hal-hal yang berguna dan bermanfaat sebagai konsekuensi dari rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan oleh Allah tersebut. Dia memanfaatkan waktunya dengan senantiasa beramal dan mengaplikasikan ilmunya untuk hal-hal yang diridhai oleh Allah. Demikiannlah orang yang pintar. (Ini tanggapan saya).
Maka orang yang memandang dirinya telah pintar pada dasarnya adalah orang yang bodoh, belum mengetahui apa-apa tentang hal yang harus dilakukan oleh dirinya. Sehingga orang yang merasa dirinya pintar adalah orang yang harus untuk selalu belajar untuk menjadi orang yang pintar. Harus senantiasa memanfaatkan waktu yang dimilikinya kepada hal-hal yang berguna agar pengakuan dirinya sebagai orang yang pintar dapat nampak dalam kesehariannya. Dengan memperbaiki paradigma tentang dirinya dalam masalah ini, maka insya Allah dia akan menjadi orang yang pintar sebetulnya.
Ada yang lebih parah lagi sepertinya dalam masalah ini, yakni orang yang merasa dirinya telah pintar dalam beragama. Sehingga dia merasa bahwa amal yang dilakukannya adalah sebuah amalan yang besar dan berimplilasi pada pahala yang besar. Banyak orang yang berjuang, berkotek-kotek dengan membawa nama islam, tetapi sesungguhnya mereka itu tidak banyak paham tentang islam. Mereka merasa bahwa mereka telah mengenal islam dan beragama dengannya dengan benar, padahal mereka belum mampu untuk mengaplikasikan nilai-nilai islam dalam dirinya. Bagaimana mungkin dapat memberikan konstribusi yang besar dalam agama ini, sementara mereka belum mampu untuk merealisasikan islam secara kaffah dalam dirinya. Bagaimana mungkin dapat dikatakan sebagai pejuang islam kaffah sementara mereka belum mampu merealisasikan islam dalam dirinya secara kaffah? Mungkin tidak berlebihan jikalau kita katakana bahwa ini adalah sesuatu yang mustahil. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal yang berlebihan tentang diri kita. Wallahu’alam bishawab.


Kesabaran itu, Demikian Indah

Sabar, sebuah kata yang singkat namun memiliki pengaruh yang luar biasa dalam perjalanan kehidupan manusia. Lihatlah, budi pekerti sang kekasih Nabiyyullah Muhammad Shallallahu'alahi wasallam tatkala dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang sangat berat dalam perjalanan beliau dalam mengajarkan risalah islam ini. Beliau dihina, dicai, dimaki dan dianggap majnun (gila) oleh orang-orang Quraisy saat itu, namun beliau tetap bersabar. Tidak membalas mereka dengan cacian atau makian yang serupa, namun justru yang beliau lakukan adalah senantiasa mengajak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah saja dan meninggalkan sesembahan selainNya. Walaupun banyak orang Quraisy membenci apa yang beliau bawa.
Lihat pula kenyataan yang beliau dapatkan ketika mengajarkan risalah islam ini di negeri Thaif. Beliau tidak mendapatkan kenikmatan tatkala beliau disana. Yang terjadi malah sebaliknya.
Beliau dilempari dengan batu oleh penduduk Thaif sampai darah mengalir ditubuh beliau, namun lagi-lagi beliau tetap sabar dengannya. Rasulullah tidak emosi atau marah kepada mereka. Tidak ada secuilpun rasa dendam dalam jiwa beliau. Bahkan, ketika malaikat penjaga gunung meminta izin kepada beliau untuk menghancurkan Thaif dan penduduknya dengan meletuskan gunung yang ada di thaif, namun beliau justru menginginkan kalau sekiranya anak dan cucu mereka nanti akan menjadi orang yang beriman kepada Allah subhanahu wata'ala. Padahal, kalau beliau berdo'a kepada Allah niscaya do'anya akan dikabulkan oleh Allah. Namun beliau tetap sabar dengan kenyataan-kenyataan yang menimpanya saat itu.
Demikian pula kesabaran para sahabat dalam menghadapi gangguan dari musuh-musuh islam. Dalam sirah islam demikian banyak disebutkan tentang perjalanan hidup para sahabat rasulullah shallallahu'alahi wasallam yang mana mereka mendapatkan tantangan-tantangan yang begitu besar, namun mereka tetap sabar bersama dengan Rasulullah memperjuangkan islam dimuka bumi. Walaupun musuh-musuh islam tidak pernah berhenti membuat makar untuk menghancurkan mereka. Ternyata, buah kesabaran mereka adalah kejayaan Islam dan kejayaan diri-diri mereka. Islam menguasai lebih dari separoh dunia melalui tangan-tangan dan lisan mereka. Merekapun mendapatkan kejayaan diri-diri mereka dengan mendapatkan Jannah yang telah Allah subhanahu wata'ala janjikan kepada mereka.
Kisah-kisah tentang kesabaran para shalafushalehpun turut menghiasi sejarah. Lihatlah kesabaran mereka dalam menuntut ilmu ad-dien. Mereka demikian sabar dengan pencarian 'ilmu sampai-sampai sebagian dari mereka pingsan ditengah perjalanan dalam menuntut ilmu, bertahan dengan kondisi alam yang sangar, ditengah padang pasir yang luas dibawah terik matahari, mereka terus berjalan untuk mendapatkan ilmu. Ada yang belajar di jalan, mendekati cahaya lampu orang yang ronda, kitab-kitab yang mereka tulis lenyap terbakar, dibawah banjir bah, namun mereka tetap bersabar. Tidak tidur semalaman demi menghafal hadist, dan masih banyak lagi kisah-kisah kesabaran mereka dalam mencari ilmu. Sungguh perjuangan yang begitu berat telah mereka tempuh dan mereka telah memetik buahnya. Imbas dari kesabaran mereka tidak hanya dirasakan oleh mereka sendiri, melainkan manusia sampai hari inipun merasakan nikmatnya hasil kesabaran mereka. Buku-buku karangan mereka yang berjilid-jilid telah sampai kepada kita karena kesabaran mereka dalam menuntut ilmu dan mengajarkan ilmunya tersebut.
Kenyataan sejarah yang telah mereka lewati ini membuat kita harus kagum akan kesabaran mereka. Tentunya, konsekuensi dari kekaguman terhadap mereka ini adalah kitapun harus mencontoh mereka dalam menghadapi setiap realita kehidupan yang menuntut kesabaran ini. Rasa heran juga mesti ada melihat kondisi umat yang lemah saat ini. Betapa nilai-nilai kesabaran sangat sedikit sekali tercermin dalam jiwa manusia akhir zaman ini, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Akibat kurang sabarnya manusia saat ini, sehingga jalan-jalan pintas diambil untuk mendapatkan apa yang dicita-citakan. Sikap tergesa-gesa menjadi pioner dalam melakukan pergerakan-pergerakan untuk meraih hasil. Dan ini banyak juga dilakoni oleh para aktivis dakwah dalam berjuang menegakan kalimatullah dimuka bumi. Hanya dengan ilmu yang sedikit dan dengan modal semangat yang tinggi, sebagian aktivis dakwah mengambil jalan-jalan pintas dalam mendapatkan kader. Karena mereka sadar bahwa banyaknya kader menunjukan kekuatan. Sehinga kadang-kadang cara yang dilakukan tanpa disadari adalah sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Namun kadang juga mereka tidak peduli apakah cara mereka itu halal atau haram, baik atau buruk, membawa maslahat atau mudharat, bernilai ibadah atau tidak. Yang pasti, apa yang menurut akal pikiran baik, maka baik pula hasilnya. Padahal, berjuang dijalan Allah memiliki koridor. Memiliki aturan-aturan. Bukan dengan cara demonstrasi, mencaci pemerintah, terlibat dalam parlemen, sampai kadang terlena dalam parlemen, mengikuti kebiasan masyarakat dengan dalil agar mereka tidak lari dan cara-cara pintas lainnya. Sadarkah bahwa cara-cara yang tidak diridhai oleh Allah dalam memperjuangkan Agamanya tidak akan pernah berhasil? Bagaimana mungkin islam akan jaya dengan jalan yang bertentangan dengan aturan Allah dan Rasulnya? Bukankah cara batil itu mustahil dalam menegakan kalimat Allah? Percaya atau tidak, masa itu pasti akan tiba. Waktu akan menjawabnya. Bukan tipe-tipe seperti ini yang dapat merubah ideologi yang sesat. Agen-agen perubah ideologi harus bisa menerapkan terlebih dahulu ideologi islam yang benar dalam dalam diri dan jiwa mereka.
Yakinlah, ideologi kafir ini tidak bisa dirubah dengan modal semangat doang. Ideologi kafir ini akan lenyap dengan kuatnya nilai-nilai syar'i dalam diri-diri kaum muslimin. Dan nilai-nilai syar'i dapat diketahui dengan baik dan benar manakala setiap orang menunutut ilmu syar'i. Dan mendakwahkan ilmu yang didapatkan tersebut. Kemudian, ketaatan kepada Allah harus senantiasa ditingkatkan serta bersabar dalam menjalankan ketaatan tersebut. Juga menjahkan diri dari maksiat serta bersabar dalam menjauhi maksiat tersebut. Hanya orang yang bersabar dalam menuntut ilmu, beramal, dakwah dan bersabarlah yang dapat merasakan nikmatnya berjuang dijalan Allah. Entah itu dirasakan didunia kenikmatannya atau diakhirat. Waktu jualah yang menjawabnya. Karena Innallaha ma'ashabirin. “Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” Bukan bersama orang-orang yang tergesa-gesa. Wallahu'alam bishawab.


4.14.2009

Tanpa Arah tanpa Tujuan

Sepi, yang terdengan hanyalah suara putaran kipas angin yang ada disamping, juga suara deru kendaraan yang lalu lalang dijalanan sana sambil sesekali membunyikan klakson tanda mengingatkan akan adanya mereka dibelakangnya. Dalam diam, berpikir akan satu hal yang mungkin tidak berganti pada saat tertentu, namun berguna pada saat yang lain. Kadang juga diselingi dengan rasa heran dalam jiwa tatkala hati kembali bertanya, Benarkah apa yang kupikirkan?? Apakah yang kupikirkan ini dapat memberi guna kepada diri dan orang lain? Kembali memori teringat dengan sebuah buku yang telah dibaca walau belum tuntas yang berjudul Kuantum Learning tentang Ambak, Apa manfaatnya bagiku? Apakah manfaatnya memikirkan hal ini bagiku? Dapatkah pemikiran tentang hal ini membawa manfaat bagiku? Jangan sampai yang terjadi adalah kerugian untuk diri dan orang lain. Tapi apakah salah jikalau aku memikirkannya? Mungkin salah, mungkin juga benar. "Sudahlah. Yang kamu pikirkan aja udah nggak jelas bin. Bagaimana mungkin kita akan tahu apakah yang kamu pikirkan itu benar atau salah sementara kamu tidak memberitahukan apa yang kamu pikirkan itu"? begitu kata hati pada saat yang lain.
Ia juga ya...., tidak ada awan, tidak ada angin, kok tiba-tiba hujan turun? Apa itu mungkin?
Sudahlah, kamupun nda perlu risau dengan apa yang kupikirkan. Wong yang berpikir juga adalah saya bukan kamu.

Baiklah aku akan jelaskan kepadamu apa yang kupikirkan.
Seperti ini kawan. Bukankah saya dan anda sangat paham bahwa kita memiliki tugas dan tanggung jawab dalam hidup ini? Kita juga sangat sadar bahwa kita hidup ini hanyalah sementara. Berarti, kita hidup memiliki arah dan tujuan yang jelas dan pasti. Bukanlah sebuah perjalanan yang tidak memiliki arah dan tujuan seperti kapal yang terombang-ambing ditengah samudra yang sangat luas tetapi tidak tahu harus kemana. Bukan seperti kapal yang terombang-ambing mengikuti arus dan gelombang yang arahnya tidak menentu. Tetapi ibarat sebuah kapal yang menuju kesebuah pulau yang telah ditetapkan untuk bersandar. Anda tahu akan hal itu bukan? Perjalanan hidup yang tidak memiliki arah dan tujuan yang pasti tidak akan pernah sampai kepada tujuan yang sesungguhnya. Benar bukan?
Lalu, apakah kita tidak merasa heran dengan kenyataan yang ada saat ini? Kenyataan dimana perjalanan banyak manusia tidak seperti kapal yang menuju kesebuah pulau yang telah ditetapkan untuk bersandar melainkan tanpa arah. Lihatlah disekeliling kita, berapa banyak manusia yang hidup dalam kegamangan? Berapa banyak manusia yang hidup dalam kesia-siaan? Jauh dari tujuan yang sebenarnya? Juga jauh dari realisasi kesadaran akan kehidupan sementara? Sungguh, sangat banyak. Karena sangat sedikit sekali yang merealisasikan tujuan kehidupannya. Apakah anda butuh bukti?

"Ia, bukti itu sangat penting sebagai penguat atas argumen yang anda kemukakan barusan" Demikian perkataan hati yang kontra dengan kutipan ini.

"Baiklah, sekarang saya aka tanya anda. Apa tujuan manusia diciptakan didunia?"

Sebagai 'abid dan khalifah bukan?" jawab si hati yang kontra

"apa maksud 'abid dan khalifah? Bisakah anda jelaskan secara singkat ma'na abid dan khalifah itu"?

"Abid itu adalah tugas manusia sebagai hamba Allah bukan? Yang kerjanya hanya beribadah? Sedangkan khalifah itu, biasa disebut sebagai pemimpin dimuka bumi. Dimana manusia bertugas memelihara, melestarikan dan menjaga dimuka bumi agar tidak terjadi kerusakan. Ia kan"? Jawab si hati yang kontra.

Baik. Kita anggap jawaban anda telah benar dan memang demikianlah makna secara singkatnya. Walaupun ada banyak hal yang kurang dipahami oleh sebagian orang tentang makna 'abid dan khalifah ini yang sebenarnya. Tapi paling tidak apa yang anda utarakan itu sudah mencakup kedalamnya. Berarti, sebagai seorang 'abid manusia harus senantiasa beribadah kepada Allah sang pencipta dalam setiap waktu dan keadaan, kapan dan dimanapun berada. Tidak ada waktu yang terlewatkan melainkan harus bernilai ibadah, karena iabdah merupakan tujuan. Jika tidak, maka berarti kita telah melenceng dari tujuan penciptaan. Benar?? Kalau demikian, maka apakah kenyataan yang nampak dimata seperti itu adanya? Justru, kemaksiatan merajalela. Perbuatan yang menyimpang dari tujuan penciptaan sebagai 'abid sangat banyak dilakukan oleh manusia. Bukankah ini merupakan bukti bahwa banyak manusia yang tidak merealisasikan tujuan kehidupannya?
Kemudian manusia sebagai pemimpin dimuka bumi yang berarti menjaga dan melestarikan bumi yang kita tempati ini. Lalu apakah banyak manusia yang merealisasikan hal itu? Kalau ya, maka tidak akan ada kerusakan dimuka bumi. Hutan-hutan yang rindang tidak akan ditebang secara sembarangan. Pencaplokan hasil-hasil bumi dapat teratur dengan baik karena ada khalifah yang memanajemennya. Lalu apakah demikian itu terjadi? Sungguh sangat sedikit sekali kita dapatkan yang merealisasikannya. Keserakahan manusia melebihi pemahaman akan tanggung jawab sebagai khalifah itu. Sehingga kerusakan dimana-mana. Saat inipun kita sering mendengarkan masalah Pemanasan Global. Yang mengancam dunia. Bukankah ini terjadi karena kerusakan-kerusakan yang dilakukan oleh sebagian manusia akibat keserakahannya dalam mendapatkan tujuan duniawi? Yang lebih parah lagi, oknum yang memiliki tanggung jawab yang besar dalam pelestarian alam ini menjadi biang kerok kerusakan. Apakah ini merupakan realisasi dari tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah? Tentu saja tidak sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan untuk manusia itu bukan?

"Betul juga ya. Berarti banyak sekali manusia yang menyimpang dari tujuan hidupnya. Lalu bagaimana solusinya menurut kamu"? tanya hati yang kontra.
Tidak ada jalan lain. Melainkan manusia memahami dengan benar tujuan diciptakannya itu. Yakni dengan mempelajari ajaran Islam ini dengan benar yang langsung dari sumbernya yakni Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman generasi terbaik umat ini. Karena mereka telah merealisasikan tujuan penciptaan mereka dengan benar sehingga mereka mendapatkan kejayaan dunia maupun kejayaan akhirat. Kejayaan dunia mereka dapatkan dengan kemenangan Ad-dien ini diatas agama-agama yang lain. Sedangkan diakhirat mereka mendapatkan jannah sesuai dengan apa yang telah Allah janjikan kepada mereka. Kalau tidak dengan cara ini, sangat mustahil manusia mencapai kejayaan umat seperti yang telah didapatkan oleh generasi umat terbaik tadi.
"Ya...ya...ya..., Memang benar apa yang telah kamu ucapkan itu. terima kasih telah menjelaskannya dengan baik kepada saya. Sebelum saya berhenti, saya ingin menanyakan kenapa anda ragu untuk mengungkapkan isi hatimu? Bukankah apa yang anda berikan itu memberikan manfaat yang besar kepada manusia-manusia yang lalai"? hati yang kontra kembali bertanya.
Ketahuilah, bahwa ada disekitar kita yang tidak merasa nyaman dengan keberadaan kita disini. Mereka anggap hadirnya kita merupakan penghalang bagi kegiatan mereka dalam mengajarkan paham-paham mereka. Sehingga tidak menutup kemungkinan mereka akan melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Walau kita paham bahwa itu adalah kemuliaan, namun kita juga harus paham bahwa kita masih sedikit dibanding dengan mereka. Kalau kita ceroboh dalam memanajemen dakwah islam ini dengan baik, maka mudharat yang lebih besar akan kita dapatkan. Sementara kita ingin meminimalisir mudharat itu sambil berusaha mencari saat-saat yang tepat untuk melancarkan aksi kita yang sesungguhnya, yakni berjihad menghancurkan mereka sampai keakar-akarnya. Wallahu'alam

Lupakanlah kenangan itu

Waktu terus bergulir. Hari-hari kemarin telah terlewatkan. Dan saat kemarin itu, tidak akan mungkin kembali lagi. Masa lalu hanya meninggalkan kenangan. Entah kenangan itu baik, maupun kenangan itu buruk. Yang pasti, setiap orang memiliki masa lalu yang penuh dengan certia. Ada saat dimana kenangan itu indah. Dan ada saat dimana masa lalu terlewatkan dengan kenangan-kenangan suram. Bergembiralah mereka yang melewati masa lalunya dengan baik. Karena mereka telah menuai benih-benih kebaikan yang dahulu mereka semai. Mereka tinggal menikmati buah-buah yang dihasilkan oleh benih yang mereka semaikan. Tidak ada gundah gulana dalam diri mereka. Yang ada adalah senyum yang senantiasa tersungging dibibir mereka. Investasi masa depan telah ada untuk mereka. Roman muka yang bercahaya terlihat tatkala menyaksikan wajah-wajah mereka. Mereka tidak menyesal dengan datangnya hari tua.
Keadaan yang sangat lain diperlihatkan oleh mereka yang santai dimasa mudanya. Mereka meninggalkan sejarah kelabu. Kenangan pahit menjadi cacatan harian sejarah hidup mereka.
Wajah-wajah kusam nampak di roman muka mereka akibat kesedihan yang begitu mendalam. Akibat tidak ada benih yang disemai di kebun yang sangat luas, maka merekapun tidak dapat menuai hasil. Akhirnya, langkah menjadi gontai. Lesu, lemah menjadi bagian dalam keseharian mereka. Kereta telah jauh meninggalkan mereka. Masih dapatkah mereka mengejar kereta itu? Pertanyaan-pertanyaan ini senantiasa membayangi benak mereka. Sehingga mereka menjadi kurus. Inilah penyesalan atas kesia-siaan yang telah mereka lakukan. Akhirnya, apa yang mereka ragukan dimasa lalu kini telah mereka dapatkan. Dan memang, kenyataan yang diragukan oleh yang lemah akal itu, pasti akan datang. Tanpa perduli apakah mereka menginginkannya atau tidak. Dan inipun telah didapatkan oleh mereka yang memanfaatkan waktu dengan sia-sia. menganggur. Tidak ada amal untuk dunia, juga tidak ada amal untuk akhirat.
Maka menjadi sebuah hal yang mesti dilakukan saat dimana masa lalu suram dilewati dengan kesia-siaab adalah memperbaiki diri. Bertaubat kepada Allah karena tidak memanfaatkan dengan baik nikmat-nikmat yang diberikan itu. Dari pada menyesali kenangan buruk itu, mending memperbaiki diri dikala masih bisa berbuat. Memanfaatkan hari-hari yang didapatkan saat ini dengan hal-hal yang baik. Memulai menanam benih disaat ini. Karena selama waktu saat ini masih didapatkan, dan karena paham bahwa saat ini adalah saat dimana berada didalamnya, berarti menjadi milik. Maka apa yang kita miliki disela-sela waktu yang tidak terlalu lama ini jangan diisi dengan mengingat kenangan-kenangan suram dimasa lalu. Cukuplah dia hilang bersama dengan hilangnya sang waktu. Pikirkanlah apa yang mesti dilakukan hari ini dengan menyemai benih kebaikan sebanyak-banyaknya. Juga jangan lupa untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi hari esok dengan ilmu. Karena ilmu dapat menjadi penolong atas kelemahan dan kekurangan dihari esok. Duri-duri yang menghalangi dapat terlewatkan dengan ilmu yang baik. Mudah-mudahan kenangan-kenangan buruk itu terlupakan dan diganti dengan kenangan baik yang akan dilewati hari ini. Seperti mereka yang telah menuai benih yang mereka tanam dahulu. Semoga bermanfaat

4.07.2009

Dinamika Seputar Pemilu -2

Kamipun memahami hakikat masalah ini. Dan ustadz tetap menginginkan agar himbauan itu tetap dimuat didalam buletin. Dalam masalah ini, saya tidak banyak komentar. Kebetulan saya pergi bersama dengan Ketua Dept. Dakwah dan Kaderisasi serta sekretarisnya. Teman saya yang ketua ini kemudian memberikan solusi bagaimana kalau himbauan ini dibuat dalam sebuah Booklet dan memuat semua Fatwa para Ulama' serta keputusan Dewan Syariat Wahdah Islamiyah seputar masalah ini. Masalahnya adalah apakah booklet ini bisa dibuat dalam setengah hari?? Akhirnya, kesimpulan terakhir bahwa fatwa Ulama' serta himbauan dan keputusan Dewan Syariat dimuat dalam bentuk buletin biasa, bukan atas nama Al Manshurah. Tetapi edisi khusus seputar masalah pemilu. Dan yang memiliki tanggung jawab untuk membuatnya adalah saya sendiri.
Selesai membicarakan masalah ini sama Ustadz, kamipun kembali dan menjelaskannya kepada teman-teman yang lain.
Esok harinya, Alhamdulillah kami dapat menyebarkan buletin edisi khusus ini kepada beberapa mesjid binaan di Kota ini.
Masalah yang muncul kemudian adalah adanya keragu-raguan dari kalangan teman-teman yang meragukan masalah ikut serta dalam pemilu ini. Sebagian mengatakan akan memilih, sebagian juga mengatakan tidak. Ada yang tidak ingin memilih karena ragu akan syubhatnya, ada juga karena tidak memiliki kartu pemilih.
Akhirnya teman-teman puas dengan penjelasan salah seorang ustadz dalam sebuah ta'lim yang menyatakan bahwa masalah-masalah seperti ini adalah kembali kepada masing-masing. Seperti apa yang telah difirmankan oleh Allah dalam Al Qur'an Surat Al maidah ayat 105. Sebagian dari mereka telah menyatakan diri untuk tidak memilih. Pemateri ini dalam ta'limnya menyampaikan bahwa orang yang memilih hendaknya dilandasi dengan niat ibadah. Demikian juga halnya mereka yang golput. Tidak hanya sekedar golput tetapi juga mengetahui hakikat yang sebenarnya seputar masalah pemilu ini.
Saya kemudian berpikir. Dalam sebuah lembaga, mestinya kita harus patuh kepada pemimpin selama tidak bertentangan dengan aturan Allah dan Rasulnya. Bukankah ini, walaupun tidak memberikan jaminan dapat mengeluarkan kita dari lilitan sistem buatan manusia ini (Demokrasi) ke sistem Islam, namun demi menghindari kemushadatan yang lebih besar lagi jika membiarkan orang-orang yang jauh dari agama menguasai bangsa ini saya kira ketaatan kepada pemimpin mesti didahulukan daripada kepentingan (pemahaman) pribadi. Bukankah pemimpin yang akan bertanggung jawab? Wallahu'alam

Dinamika Seputar Pemilu -1

Beberapa hari yang lalu (kamis, 2 April 2009) saya mendapatkan tugas dari Ustadz untuk membuat buletin Al Manshurah yang membahas seputar masalah Pemilihan Umum. Memang pengadaan Buletin Dakwah ini adalah sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai ketua Dept. Infokom WI Kendari untuk mengelolanya. Tetapi, dalam pembuatannya, saya biasanya memberikan kepada sekretaris untuk mengelolanya. Kali ini nampaknya saya harus mengerjakannya sendiri. Karena ada sebuah instruksi yang harus dikerjakan sebagai penanggung jawab bidang Informasi dan Komunikasi di lembaga kami ini. Materi buletin kali ini berjudul Tinjauan Syar'i Seputar Pemilu. Disamping materi berupa fatwa Ulama kibar seputar masalah ini dan kondisi yang mirip dengan tujuan pengeluaran fatwa ini dinegeri ini, juga ada muatan informasi dari Ormas yang menghimbau kepada kaum muslimin untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilihan Calon Legislatif dengan memilih caleg yang muslim dan amanah. Keraguan itu, merasuki jiwa. Betapa tidak, barusan kali ini pimpinan lembaga memberikan himbauan secara terbuka terhadap masalah ini. Apalagi buletinnya diperbanyak sebanyak 500 eksemplar. Hal yang sebelumnya saya pahami adalah bahwa lembaga kami ini tidak pernah menyatakan secara langsung seputar masalah coblos mencoblos atau contreng mencontreng ini. Apakah ini merupakan bukti dukungan terhadap sistem yang ada atau bukan, atau bagaimana saya belum memahaminya lebih jauh.
Keraguan menjadi semakin bertambah tatkala melakukan diskusi dengan sebagian kawan-kawan yang mungkin memiliki sedikit pemahaman seputar masalah ini. Apalagi beberapa teman menganjurkan agar buletin dakwah Al Manshurah ini jangan dicampuri dengan urusan-urusan politik. Cukuplah buletin ini memuat masalah-masalah syar'i yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Diskusi panas sesama ikhwan penghuni pondok terjadi. Maka saya anjurkan untuk berbicara langsung dengan Ustadz seputar masalah ini. Tidak ada yang mau. Rupanya sebagian hanya pandai berkomentar dibelakang, maka sayapun segera menghubungi ustadz menanyakan seputar masalah ini dan apakah mesti harus dimuat dibuletin. Sang Ustadz menjelaskan bahwa ini adalah hasil keputusan Musyawarah tinggi. Dan ustadz menganjurkan agar dimuat saja dibuletin biar beliau yang bertanggung jawab.
Informasi yang saya dapatkan ini segera saya sampaikan kepada teman-teman. Rupanya masih belum diterima. Maka saya minta kepada teman-teman yang memiliki pemahaman syar'i yang cukup untuk berdialog langsung dengan Ustadz dengan berjalan kaki. Sesampainya dirumah Ustadz, beliau langsung menjelaskan seputar masalah ini. Ini adalah keputusan Musyawarah Tinggi DPP WI dengan meminta pertimbangan dari para Ulama timur tengah yang paham seputar masalah ini. Beliau juga menjelaskan bahwasanya saat ini, menurut hasil Survey sekitar 40% pemilih di negeri ini Golput sehingga MUI mengeluarkan Fatwa haramnya Golput. Dan kebanyakan yang golput ini adalah orang yang memiliki pemahaman syariat yang cukup. Lantas bagaimana jika pemilih dinegeri ini dikuasai oleh mereka yang jauh dari agama, bahkan memusuhi ad-din ini, dan yang lebih parah lagi bagaimana jika pemilih dikuasai oleh pendukung Calon dari perempuan? Bagaimana jadinya jika bangsa ini di pimpin oleh Perempuan? Bukankah itu berarti membiarkan kemaksiatan kepada Allah semakin besar. Tentu saja kita menginginkan perubahan tetapi jika bangsa ini dipimpin oleh Perempuan, maka bagaimana mungkin bangsa ini akan mendapatkan Rahmat dari Allah?
Atau bagaimana jika bangsa ini dikuasai oleh orang-orang yang merusak? Apakah tidak berarti kita juga turut membiarkan kerusakan terjadi? ....dst. Apalagi masalah ini telah didiskusikan oleh para Ustadz alumni universitas-universitas di Saudi Arabia. Karena pertimbangan maslhat dan mudharatlah ini dilakukan. Para ulama besarpun telah memberikan fatwa seputar masalah ini. Yang pasti, kita semua sepakat bahwa sistem yang digunakan adalah sistem kufur. Yang menjadi masalahnya adalah solusi keluar dari sistem ini. Wallahu'alam


To be Continued...

Template by : kendhin x-template.blogspot.com